is this the best it gets…? kalimat itu terus menggantung dikepalaku… entah gara2 lagunya BUDAPEST ato
emang aku lagi hang aja…
tepat seminggu lalu aku melayangkan surat resign ke kantor. aku nggak kuat lagi disana. puncaknya aku
depresi dan stres. aku sampe nangis bilang sama ortu ku kalo aku ga tahan lg kerja disitu.. bukannya
mendukung atau kasi semangat atau entah apalah yang bisa kalian berikan kepada putri kalian satu satunya ini, kalian malah “point your fingers at me”
kenapa kalian seperti itu? keluar dari tempat itu bukan kiamat, masih banyak hal lain atau pekerjaan lain
yang bisa dilakukan..
terlalu banyak kalimat lain yang membuatku semakin patah hati.. tidak bisakah kalian menerima
keputusanku? hey.. ini hidupku, bukan hidup kalian.. mengapa kalian begitu egois? kupikir kalian telah
cukup dewasa dalam berpikir.. tapi disitulah aku salah.. dan aku kecewa lagi..
“mereka seperti itu karna sayang sama kau..” kata orang lain lagi kepadaku.. tapi kupikir kalo memang
mereka sayang sama aku mereka melakukannya dengan cara yang salah… kalo mereka memang sayang
sama aku, mereka takkan membiarkan putri nya ini hancur berantakan di tempatnya bekerja dan
mempertahankan pekerjaan yang tak perlu dipertahankan..
apa yang membuatku mundur? aku tidak enjoy lagi bekerja disana.. dan hal ini telah berlangsung cukup
lama sebenarnya… bolak balik aku menahan keinginanku untuk resign. karna aku tidak egois maka aku
masih mau mempertahankan pekerjaan itu dulu…
tapi tentu setiap manusia punya batas.. dan kesabaranku sudah mencapai puncaknya minggu lalu.. aku
bisa “sakit” kalo tetap tinggal dalam kurungan itu.. ya.. itu lah masalahnya, aku seperti dipenjara…
kupikir ini saat yang tepat untuk mundur dan “it’s time to move my cheese” serta kembali pada titik aku
memulai sesuatu yang lain.. aku percaya Tuhan akan menolongku dan aku optimis..
semoga ini lah yang terbaik.. terimalah keputusan ku dengan ikhlas, karna aku telah menyerahkan
segalanya kepada Tuhan..